rysdar07's blog

what we have, just to share…

Who am I??

October13

Assalamu’alaikum Wr. Wb..

Hi guys..

Seneng banget ni sekarang aku bisa ikut berkecimpung di dunia blogger’s, mudah-mudah ini bisa menjadi sarana bwt penulis untuk mengekspresikan dan mengapresiasikan semua hal baru yang bisa kita bagi bersama di sini.

Oh ya, sekedar perkenalan awal, penulis adalah mahasiswi IPB (Bogor Agricultural University) jurusan Ilmu Gizi, Dept. Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (GM 44 namanya Luminaire), yg berkaitan dengan status gizi masyarakat gitu deh..^^ Lebih lengkapnya ni ya biodataku:

Selamat datang semuanya…

Nama : Rysda Nurharmelya (call me Rysda)

TTL: Jakarta, 14 Agustus 1989

Status: Mahasiswi Departemen Gizi Masyarakat IPB

Cita-cita: Ahli Gizi

Hobi: travelling and listening musics

Motto hidup: Before you run, you must learn to walk.

Nah, kita check dulu ya ke TKP..

ini dia nih kampus kebanggaan ku..

Air Mancur ipb

Bogor Agricultural University

Nah, kalo yang ini, Departemen Kebanggan ku…

Ilmu Gizi

Departemen Gizi Masyarakat

Nah, kalo yg ini, syapa hayoo??

narsis ; <mode on>

Lab Kesayangan

Lab Metabolisme Zat Gizi

Mungkin cukup sekian dulu sebagi permulaan, and mudah-mudahan jadi awal yang baik. Thanks a lot..

Salam hangatz…

<Rysda Nurharmelya>

posted under Private | No Comments »

Sistem Pernapasan

October7
Pernafasan

Cover Buku Pintar Pernafasan

BRONKITIS KRONIK

Definisi

Definisi bronkitis kronik merupakan suatu definisi klinis yaitu batuk-batuk hampir setiap hari disertai pengeluaran dahak, sekurang-kurangnya 3 bulan dalam satu tahun dan terjadi paling sedikit selama 2 tahun berturut-turut. Beberapa penyakit lain juga memberikan gejala yang sama antara lain tuberkulosis paru, bronkiektasis tumor paru dan asma bronkial. Karena itu penyakit-penyakit tersebut harus disingkirkan dulu sebelum diagnosis bronkitis kronik dapat ditegakkan.

Bronkitis kronik dapat dibagi atas:

–          Simple cronic bronchitis: bila sputum bersifat mukoid.

–          Cronic atau recurrent mucopurulent bronchitis: bila sputum bersifat mukopurulen

–          Cronic obstuctive bronchitis: bila disertai obstruksi saluran napas yang timbul apabila terpapar zat iritan atau ada infeksi saluran napas akut.

Epidemiologi

Bronkitis kronik didapatkan lebih banyak pada laki-laki daripada wanita. Mungkin ini disebabkan penyebab utama sampai saat ini adalah merokok, dan laki-laki lebih banyak yang merokok dibandingkan wanita. Di Asia jumlah perokok kira-kira 50%, sedangkan di Indonesia jumlah perokok menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga 1996 adalah 53% laki-laki dan 4% wanita.

Saat ini diperkirakan 20% laki-laki dewasa menderita bronkitis kronik, dan pada wanita dewasa lebih sedikit. Namun karena wanita yang merokok terus meningkat maka angka bronkitis kronik pada wanita akan meningkat. Menurut Balter MS dalam Suyono S (2001), pada bukan perokok terdapat 15% yang menderita batuk kronik dengan sputum, meningkat menjadi 33% pada perokok dengan pipa dan cerutu, sedangkan pada perokok sigaret yang mengonsumsi setengah sampai satu pak rokok, akan mengalami batuk kronik sebanyak 40-50%, dan akan meningkat menjadi 70-80% pada yang mengonsumsi rokok dua bungkus atau lebih.

Di Amerika Serikat kira-kira 10-25% penduduk menderita simple chronic bronchitis, lebih banyak terdapat pada laki-laki di atas 40 tahun. Di Inggris bronkitis kronik terdapat pada 17% laki-laki dan 8% wanita. Diperkirakan didapatkan 30.000 kematian karena bronkitis kronik setiap tahun, merupakan angka kematian terbanyak ketiga pada laki-laki dengan usia di atas 65 tahun.

Patologi

Kelainan utama pada bronkus adalah hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus bronkus. Terjadi sekresi mukus yang berlebihan dan lebih kental. Secara histologis dapat dibuktikan dengan membandingkan tebalnya kelenjar mukus dan dinding bronkus. Disamping itu terdapat juga peradangan difus, penambahan sel mononuklear di submukosa trakeobronkial, metaplasia epitel bronkus dan silia berkurang. Yang penting juga adalah perubahan pada saluran napas kecil (small airways) yaitu hiperplasia sel goblet, sel radang di mukosa dan submukosa, edema fibrosis peribronkial, penyumbatan mukus intraluminal dan penambahan otot polos.

Patogenesis

Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi timbulnya bronkitis kronik yaitu rokok, infeksi, dan polusi. Selain itu terdapat pula hubungan dengan faktor keturunan dan status sosial.

Rokok

Rokok adalah penyebab utama timbulnya bronkitis kronik. Secara patologis rokok berhubungan dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia epitel skuamus saluran pernapasan, juga dapat menyebabkan bronkokontriksi akut. Menurut Crofton dan Douglas dalam Suyono S (2001), merokok menimbulkan pula inhibisi aktivitas sel rambut getar, makrofag alveolar, dan surfaktan.

Infeksi

Infeksi menyebabkan kerusakan paru lebih hebat sehingga gejalanya pun lebih berat. Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada seorang penderita bronkitis kronik hampir selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah, serta menyebabkan infeksi paru bagian bawah, serta menyebabkan kerusakan paru bertambah.

Polusi

Insidensi dan angka kematian bronkitis kronik diperkirakan lebih tinggi di daerah industri. Sebagai faktor penyebab penyakit, polusi tidak begitu besar pengaruhnya tetapi bila ditambah merokok, risiko akan lebih tinggi. Salah satu polusi yang dapat menyebabkan obstruksi saluran napas kecil (bronkiolitis) adalah polusi nitrogen dioksida (NO2).

Faktor Genetik

Faktor genetik mempunyai peranan pada penyakit paru kronik, terbukti pada survei terakhir didapatkan bahwa anak-anak dari orang tua yang merokok mempunyai kecenderungan mengalami penyakit paru kronik lebih sering dan lebih berat, serta insidensi penyakit paru kronik pada grup tersebut lebih tinggi.

Faktor Sosial Ekonomi

Bronkitis kronik lebih banyak didapat pada golongan sosial ekonomi rendah, mungkin karena perbedaan pola merokok, dan lebih banyak terpapar faktor risiko lain. Kematian pada penderita bronkitis kronik ternyata lebih banyak pada golongan sosial ekonomi rendah. Mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih buruk.

Lingkungan Kerja

Bronkitis kronik lebih sering terjadi pada pekerja yang terpapar zat inorganik, debu organik atau gas yang berbahaya. Pekerja yang terpapar zat tersebut mempunyai kemungkinan bronkitis kronik 2-4 kali daripada pekerja yang tidak terpapar. Secara epidemiologi didapatkan penurunan fungsi paru pada pekerja-pekerja tersebut, seperti pekerja pabrik plastik yang terpapar toluene diisocyanate, pabrik katun dan lain-lain.

Patofisiologi

Penyempitan saluran napas terjadi pada bronkitis kronik. Bila sudah timbul gejala sesak, biasanya sudah dapat dibuktikan adanya tanda-tanda obstruksi. Pada bronkitis kronik sesak napas terutama disebabkan karena perubahan pada saluran napas kecil, yang diameternya kurang dari 2 mm, menjadi lebih sempit, dan berkelok-kelok. Penyempitan lumen terjadi juga oleh metaplasia sel goblet, saluran napas besar juga berubah karena hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus, sehingga saluran napas lebih menyempit.

posted under Academic | 1 Comment »